Family is everything, isn’t it? I don’t mean to be naive though. Well, when I was in senior high school, I’ve been absent from my family events (hang out or just gathered in my grandma’s house) for many times. There is only one reason for that, “I have something else to do with my friends.” and my mom seemed to understand that.
However, as I grow old (literally old because 17 is old enough to understand what’s going on in life), I build a new life in my new place , Jogjakarta. My friends , including best friends are scattered all over Java. Most of them are in Bandung and the rest may be in Jakarta, Purwokerto, Semarang, even outer space(just kidding. Not funny, huh? Fine.) I usually catch up with them when I’m home but not this time.
I went back from Jogja on Tuesday (which never happens before). I contact all of them but none was available to hang out with me. I don’t blame on anyone, but that’s the exact time I realized that family is everything. I spent three days of my days-off with my auntie and my cousins in Bandung. We get to know each other and I kind of paying back my lost time with them in the past. My mom and dad were happy because we really had such a good time together and I absolutely gained some pounds -_-
Indeed, if you haven’t got into this phase like I am now, you will have to know that… Family always waits for you to be with them , even if you consider them as your last choice.
Bear in mind. Peace.
This is my cousin, Pelangi Rahmania. She is gonna celebrate her first birthday in the end of this month. I used to spend my time with her until she was 4 months old and I moved out from my hometown. I love her so much.
I am on my way Jogjakarta by train dan satu gerbong diisi sama foreigners. Orang pribumi nya cuma gue dan tour guide mereka. Ternyata mereka pake bahasa yang gak gue ngerti. Ya kalo enggak Jerman, Belanda. I’m not sure, but it’s obviously not English. Pengalaman ini aneh banget. Bukan, bukan karena gue ngerasa aneh ngeliat bule. I am not that certain kind of person yang kalo liat bule, langsung jerit jerit dan minta foto. Gue aneh aja ngeliat tingkah mereka karena selama ini temen-temen bule gue ya mahasiswa INCULS di FIB yang lagi pada belajar bahasa Indonesia dan gue ketemu di kampus jadi gak pernah ngeliat tingkah mereka yang signifikan anehnya. Well, kayaknya gue mesti cari kosakata lain selain kata aneh. Norak? Enggak juga sih.. Amaze? Gak gitu juga sih..
Jadi… Pas gue udah sampe stasiun dan mau naik kereta, bule bule itu lagi pada sibuk motret di depan lokomotif kereta kayak that’s the first and the only train in the whole universe. Gue naik gerbong dan bergumam, “damn…bule semua.” yang menurut gue saat itu adalah malesin karena gue ngantuk dan gak bisa tidur karena bule bule itu ngobrol gak berhenti pake bahasa mereka.
Terus gue cari kursi, dapetlah di belakang gerbong. Dan saat itulah keabsurdan mulai terjadi…Ada petugas yang biasa ngebolongin tiket. Guide nya berdiri dan teriak, “ticket controller!!!”. Dan lo tau apa yang mereka lakuin? Alih-alih ngeluarin tiketnya, mereka malah ngeluarin kamera. Dan bapak petugasnya sekejap jadi artis karena saat meriksa tiket, jepretan kamera gak berhenti bunyi bahkan ada yang pake flash. Gue ngeliat pemandangan kayak gitu sebenernya pengen ketawa tapi gak lucu juga kan kalo ketawa sendirian..
Ternyata keabsurdan gak terhenti disitu.. Kereta yang gue naikkin merupakan kereta eksekutif Argo Wilis yang fasilitasnya edan, gak heran tiketnya pun merogoh kocek gue sampe (agak untung belum) bolong. Nah si kursi nya itu bisa diputer 360 derajat… Jadi biasanya kalau kita rombongan berempat, instead of duduk saling membelakangi, kursi nya diputer jadi bisa berhadapan. Dan lo tau apa yang mereka lakuin.. Mereka geser kursinya 90 derajat jadi kursinya ngadep ke jendela…which I’ve never seen such thing before… Lagi lagi gue pengen ngakak tapi gaenak hati.
Terus…gue jadi bisa menganalogikan kalo naik kereta bagaikan nonton bioskop bagi mereka. Film yang diputer adalah “kehidupan orang Indonesia yang rumahnya dilewatin sama kereta ini.” karena mereka amaze banget sama pemandangan yang ditawarin sama negara Indonesia . Mereka lihat apa yang dilakuin pak tani dan bu tani disawah di pagi hari. Mereka lihat anak kecil main badminton di lapangan. Dan mereka sibuk sama kameranya. Sampai ada yang berdiri di tempat duduknya sambil foto dan bahkan ngerekam video yang isinya (kalo kata kita sih cuma) pegunungan.
Terlepas dari keabsurdan mereka, setiap kursi ada tulisannya 100% love Indonesia. Itu bagai menampar gue dan semoga menampar lo juga yang baca tulisan ini. Antusisme para ex-patriat itu sebegitu besarnya mengagumi keindahan alam Indonesia, dan gue yakin Indonesia masih punya hal yang lebih indah dibanding film yang mereka tonton dari kereta. Tapi…selalu ada tapi..kenapa orang Indonesia sendiri gak pernah menghargai apa yang sudah ada? Kenapa kebanyakan orang Indonesia lebih bangga bilang “liburan kemarin gue ke Eropa, lihat menara Eiffel dan ngerasain salju di Swiss.” daripada “Udah coba main paralayang di Padang belum? Liburan kemarin gue kesana. Keren loh pemandangannya danau.” . Gue akuin jalan-jalan di luar negeri terdengar lebih keren daripada jalan jalan di negara sendiri, tapi kapan kita akan mulai menghargai dan mencintai negara kita sendiri kalo yang kita apresiasi adalah negara orang? Terdengar naif dan munafik memang karena mesti gue akui, 100 targets yang gue punya untuk 5 tahun ke depan rata-rata traveling ke luar negeri. Tapi gue mulai menyisipkan local destination juga kok. Bahkan.. Ada yang mesti gue akui. Satu tahun gue kuliah di Jogja, tapi belum pernah ada kesempatan main ke Candi Prambanan. Hua. Dan gue juga bagai ter-slap saat percakapan gue dan temen gue dari Aceh terjadi.
Temen : kamu sering keluar negeri ya?
Q ; enggak sering juga kok. Waktu sma emang suka ikutan exchange
Temen : udah pernah kemana aja di Sumatra?
Q : *gagap* emm….belum….
Dan saat itu juga dia ngetawain gue puas banget. Dan gue ngatain diri gue sendiri, dan mulai berpikir gue aneh.
Sekarang gue masih duduk di gerbong ini ngeliat tingkah bule-bule itu motret pemandangan sekitar. Tujuan gue bikin tulisan ini sih pengen ngajak para pembaca yang suka traveling, untuk mulai menjelajahi nusantara. Inget, Indonesia itu gak cuma Bali. Masih banyak pulau yang lainnya..
Setelah gue pikir-pikir, kenapa orang Indonesia lebih seneng jalan keluar adalah karena satu alasan. Gak semua sih tapi kebanyakan orang. Apakah itu? Prestise. Ada satu hal yang menurut gue mulai mendarah daging di masyarakat Indonesia khususnya daerah perkotaan. Budaya itu disebut budaya gengsi. Banyak orang (harus gue akui, temen-temen gue sendiri yang pada tajir tapi duit ortu juga sih) lebih malu liburan gak kemana-mana daripada malu prestasi di sekolah nurun gara gara kebanyakan bolos. Oleh karena itu mulailah dia bikin status, yesh H-5 australia. Terus 5 hari kemudian, boarding, see you indonesia. Dan beberapa hari kemudian bikin status lagi, duh baru dapet koneksi internet nih dan bla bla bla yang bikin gue bertanya tanya kenapa budaya gengsi dan pamer ini semakin mendarah daging. Tapi ada juga kok temen gue yang bahkan sekolah di luar negeri tapi gak sombong.
Semoga tulisan ini berkenan buat kalian semua. Gue sih mau mulai mencintai negara ini dengan menjelajahi tempat-tempat yang unik. Bukan berarti gue gak gengsi(gue manusia dan itu manusiawi) tapi gue mau mencoba untuk mengesampingkan rasa gengsi gue.
Bukan sisi politik , KKN dan bla bla bla yang kita lihat untuk mencintai Indonesia, tapi sisi keindahan yang kita sendiri belum pernah merabanya.
Qisthi Shafira.
— @odydc
When I was in high school, my best friend, Alpiadi, and I have the same dream. We want to be Indonesian diplomats. Once I wrote him a letter as a goodbye letter before we moved to our new university. It was lyrics of Bruno Mars- Today My Life Begins. I just realized that graduating from high school is only the beginning of real life.
I moved to Jogjakarta while Adi moved to Depok because he was accepted in Universitas Indonesia, studying politics. Last night, I disturbed him with my thoughts of leaving my university now because I feel discomfort with the major I took. I took English literature which has different things to talk about, way too different with politics and international relations. At the same time, I think I am in the wrong path right now. What I face everyday is completely different with what I want to be in the future and I am quite sure I am not in the right path. Although almost all of my lecturers convinced me that I still can work in Ministry of Foreign Affair soon as I graduate from this department, I just don’t like what I do everyday. I don’t mean to be a snob but English is not a big deal for me, yet I never take it as my life. I told everything I feel last night to Adi and he motivated me a lot.




I am totally clueless. When I was in high school, I moved to Bandung then I made my parents disappointed by moving back to my old school. At that time, everyone considered me as a loser and a total coward. I won’t it happen again. If I leave this university, I know my parents will be upset, because it is their dream to have a daughter graduated from a university with a high and good reputation without noticing what major I am now.
Should I stop here? Or should I stay here and keep doing a thing that makes my dream became far away?
The answer is, I don’t know.
P.S: Good luck for the SNMPTN for Adi, I hope you’re accepted in HI UI. I won’t be ready for any entrance tests. Maybe I will be here for my parents and figure out what I’ll do next after I reach their dream.
Nugie- Lentera Jiwa.
-
“
Ketika di kawinan. Pacaran: ditanya ‘Kapan nikah?’ LDR: ditanya ‘Kapan pacarnya pulang?’ Jomblo: ditanya ‘Itu piring ngambil di mana?’
Ketika ke...
” -
-
Photo Courtesy: thatjuly9thxo
-
submitted by: http://neveerforgett.tumblr.com/
-
Hi 16!
What a wonderful day, today was so great, full with love and happiness, Today’s my Qisthi’s day, congrats baby now you’re 16 and it means you...
-
qisthi ♥

jepang??????????????? done!!!

istanbul???????????????? done!!!

singapore????? done!!

-
Photo Courtes: lovelessfreak
-
Photo Courtesy: noeeeee


